Kisah Pejuang Kehidupan : Secercah Cahaya Dari Geladak Kapal
Oleh : Kartika Akbaria
[KMIT-Online] "Permisi, mba. Kalo tempat shalat disini dimana yah?". Aku berpaling dan melihat ke arahnya, seorang laki-laki muda Indonesia dengan pakaian seadanya dan sangat sederhana di tengah musim dingin yang menusuk. "Di bawah bisa. Tapi mungkin kalo tempat yang sepi gak ada, shalatnya gak kondisi normal. Sambil duduk gak papa?" Lontar sahabatku. Kami pun pergi bareng, berjama'ah untuk salat Ashar, di satu sudut yang alhamdulillah sepi hingga kami bisa salat dengan kondisi biasa. Saat sedikit dzikir di akhir salat, aku sempat menengok tatapan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami. Asing ... mungkin itu yang mereka rasakan.
Transfer denyut kehidupan pun dimulai .. Dia sudah menunggu cukup lama untuk mencari tempat salat dan berusaha mencari orang yang kira-kira muslim. Hingga dia melihat gerombolan halaqah kami dan bersegera menghampiri. Sungguh, pertemuan indah dengan para muslim bisa Allah lakukan kapanpun dan dimanapun, sekalipun di tengah kerumunan mall besar. Ceritanya panjang mengalir. Ia adalah Saeful Ahyar, seorang pria yang bekerja sebagai buruh kapal. Dari pekerjaan serabutan ini ia membiayai hidup istri dan satu orang anaknya yang masih kecil di Kuningan. Ekonomi yang lemah membuatnya harus meninggalkan sang istri, bahkan ketika sang buah hati melihat dunia ini pertama kali. Ia sudah melanglangbuana ke negeri singapura, malaysia, dan kini taiwan. Menghabiskan kontraknya yang sekian tahun, suka tidak suka, mau tidak mau harus dijalani. Kekagumanku mencuat, saat ia bertanya seputar keislaman dengan sangat lugu. Bercerita ttg pekerjaan yang sangat kasar dan mandor yang super galak, hingga ia harus mencuri-curi waktu untuk salat duhur saat teman-teman yang lain asyik tiduran atau makan siang beberapa menit saja. Dan dengan lugunya ia menceritakan tentang qada' salat, karena ia seringkali tidak bisa salat ashar dan maghrib pada waktunya. Ia haus hidayah, mencari-cari saat ini karena ia sudah pernah merasakan kelamnya hidup, dalam alkohol, rokok, wanita yang bergelimpangan. Aku semakin mengakui kebesaran Allah dan kasih sayangNya yang memilih Mas Saeful untuk bisa kembali ke jalan Islam saat usia 20 tahun. Memberinya kesempatan untuk kembali mengenal salat, tiang agama yang sudah ia tinggalkan belasan tahun. Ia pun bercerita tentang makan yang hanya ia dapatkan dua kali sehari. Untuk makan malam dan hari minggu terkadang dia gak makan sama sekali karena warung yang buka mencampur masakannya dalam satu wajan, dengan babi dan kawan2nya. Aku terhenyak, sungguh tangguh ia menahan rasa lapar yang sangat setelah bekerja seharian supaya perutnya tidak terisi makanan haram. Dan ia pula yang "memberontak" pada mandor supaya ia dan 2 orang kawan muslim lainnya diberi makanan halal, hingga akhirnya hanya diberi sayur seadanya dan terkadang daging ayam atau ikan. Padahal dia butuh energi besar untuk mengangkut barang dan mendapatkan lebih banyak uang. Ia kuperkenalkan saat itu juga kepada kawan-kawan di Masjid Besar, walau harus menempuh jarak yang cukup jauh. Aku ingin dia tahu dan terus semangat, bahwa banyak pula kawan-kawan seperjuangan di Taipei ini yang bisa menjadi sahabat dan sandarannya. Kami salat maghrib kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Niat baik sahabatku didahului Mas Saeful. Ia membayarkan semua makan kami. Ia sangat bersikeras, karena merasa sangat senang dipertemukan dengan saudara-saudara muslim. Semoga Allah membalas keistiqamahan dan taubatnya dengan ridha dan jannah. Pertemuan ini berakhir di penghujung isya. Lagi-lagi penuh kesederhanaan, haus keimanan, walau dalam segala keterbatasan. Moga Allah mempertemukan kami kembali, untuk saling berbagi hikmah Sebuah catatan kecil untuk antum, akhi Supaya senantiasa hamasah untuk menjaring saudara-saudara kita yang ada di TMS
Kisah Pejuang Kehidupan
Diangkat dari kisah nyata para pejuang kehidupan, yang mengais rezeki di Bumi Formosa TAIWAN
Jika anda tertarik untuk berkontribusi, silahkan kirimkan naskah tulisan anda ke :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it




|